Pembelajaran Berbasis Kontekstual*

*Makalah disajikan pada Semiloka Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Kontekstual Universitas Muhammadiyah Bengkulu, 25 Februari 2010 di Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Oleh : Dra. Elyusra, M.Pd.**

**Dra. Elyusra, M.Pd. pengampu mata kuliah Kesusastraan dan Perencanaan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

A. Pendahuluan

Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 232/U/2000 dan Nomor 045/U/2002 mengamanatkan penyusunan kurikulum pendidikan tinggi yang berbasis kompetensi untuk setiap program Studi oleh kalangan perguruan tinggi yang bersangkutan. Pendidikan memang dimaksudkan untuk menumbuhkembangkan kompetensi sasaran didik untuk mampu berkarya di bidang yang relevan. Pendidikan tidak sekedar mengajarkan dan mempelajari pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan aspek-aspek pendidikan lain. Pendidikan tidak untuk sekedar menjadi tahu, tetapi untuk menjadi mampu bertindak cerdas, yakni mampu memecahkan masalah nyata dalam kehidupan. Dinyatakan oleh Mulyasa ( 2000 ) kompetensi itu merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Dalam ilmu pendidikan dikenal dengan tiga kawasan pendidikan, yakni kawasan kognitif, afektif, dan psikomotor. Selanjutnya, pada SK Nomor 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi dinyatakan bahwa kompetensi terdiri atas lima elemen, yakni: Landasan kepribadian, Penguasaan ilmu dan keterampilan, Kemampuan berkarya, sikap dan perilaku dalam berkarya, serta Pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarakat. Dalam struktur kurikulum kelima elemen kompetensi itu dirumuskan menjadi tiga kelompok kompetensi, yakni kompetensi utama, kompetensi pendukung dan kompetensi lainnya. Kompetensi utama adalah kemampuan untuk menampilkan unjuk kerja yang memuaskan sesuai dengan penciri program studi; kompetensi pendukung adalah kemampuan yang gayut dan dapat mendukung kompetensi utama serta merupakan ciri khas perguruan tinggi yang bersangkutan; kompetensi lainnya adalah kemampuan yang ditambahkan yang dapat membantu meningkatkan kualitas hidup dan ditetapkan berdasarkan keadaan serta kebutuhan lingkungan perguruan tinggi.

Continue reading

Model Elaborasi dan Peta Konsep pada Perkuliahan Teori Sastra Suatu Inovasi Pembelajaran di LPTK

Oleh : Dra. Elyusra, M. Pd.*

*Dosen Pengampu Mata Kuliah Kesusastraan dan Pembelajaran BSI di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Pemilik akun blog http://adabundaguru.wordpress.com

 

1. Pendahuluan

Dunia pendidikan sekarang dituntut untuk senantiasa melakukan inovasi dalam pembelajaran, pada berbagai aspeknya, mulai dari visi, misi, tujuan, program, layanan, metode, teknologi, proses, sampai evaluasi. Bagi seorang dosen pemilihan model pembelajaran hendaknya dilakukan secara cermat, agar pilihan itu tepat atau relevan dengan berbagai aspek pembelajaran yang lain, efisien dan menarik. Lebih dari itu, banyak pakar yang menyatakan bahwa sebaik apa pun materi pelajaran yang dipersiapkan tanpa diiringi dengan model pembelajaran yang tepat pembelajaran tidak akan mendatangkan hasil yang maksimal. Kecermatan pilihan itu semakin penting jika kondisi yang dihadapi kurang kondusif, seperti halnya pembelajaran teori sastra bagi mahasiswa semester awal di LPTK.

Pengalaman belajar sastra yang telah dilalui oleh mahasiswa baru atau mahasiswa semester satu di LPTK selama menempuh pendidikan di SLTP dan SMA sudah banyak, namun pada kenyataannya mahasiswa kurang menguasai konsep –konsep sastra, seperti istilah-istilah teknis sastra. Sewaktu di SLTP dan SMA mahasiswa semester awal tadi telah memperoleh pengalaman belajar mengungkapkan aspek estetis sebuah puisi, seperti pola persajakan, menyatakan pendapat tentang tampilan puisi dan variasi bunyi konsonan dan bunyi vocal yang digunakan penyair . Akan tetapi, ketika duduk di LPTK mahasiswa tadi tidak kenal dengan istilah unsur mental dan unsur fisik puisi. tidak mengetahui bahwa penggunaan bunyi vocal dan konsonan tadi disebut dengan asonansi dan aliterasi dan tampilan puisi di atas kertas yang mempesona mereka itu disebut dengan istilah tifografi, bahkan dari pengalaman penulis ada mahasiswa yang menyamakan tifografi dengan biografi. Kejadiannya pun di waktu ujian tengah semester.

Continue reading

Meningkatkan Proses dan Hasil Pembelajaran Menuju Sertifikasi dengan Model GMD

Oleh : Dra. Elyusra, M. Pd.*

*Dosen Pengampu Mata Kuliah Kesusastraan dan Pembelajaran BSI di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Pemilik akun blog http://adabundaguru.wordpress.com

 

ABSTRAK

Pemerintah mengadakan sertifikasi dan uji kompetensi ditujukan untuk meningkatkan kualitas atau mutu pendidikan. Bagian daripadanya adalah untuk peningkatan proses dan hasil pembelajaran di sekolah. Dalam kenyataan, sertifikasi dipersepsi secara salah oleh kalangan pendidikan, khususnya guru bahwa sertifikasi adalah tujuan. Sehingga dalam praktiknya, yang diupayakan adalah pemerolehan sertifikat profesinya bukan melaksanakan upaya-upaya peningkatan mutu pembelajaran. Akan tetapi, ada pula kalangan guru yang telah mempertunjukkan minat dan melaksanakan usaha perbaikan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakannya. Sejauh pengamatan penulis upaya tersebut belum optimal. Penyebabnya adalah pengetahuan dan wawasan yang masih terbatas tentang model yang dapat diterapkan, serta pelaksanaannya yang dilakukan secara sendiri-sendiri.

Ada beberapa model peningkatan proses dan hasil pembelajaran yang sudah dikembangkan, diantaranya PTK dan Lesson Study. Kedua model ini pelaksanaannya bersifat kolaboratif. Hal ini seiring dengan paradigma baru yang mulai dianut kalangan pendidikan, khususntya bidang pembelajaran. Pada kesempatan ini, penulis menawarkan satu model peningkatan proses dan hasil pembelajaran, yakni model GMD. Model ini merupakan cara meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan secara berkolaboratif antara Guru Pamong (GP), Mahasiswa Praktik (MP), dan Dosen Pembimbing lapangan (DPL) ketika pelaksanaan Praktek Pengalaman Lapangan ( PPL ) oleh suatu LPTK di suatu satuan pendidikan atau sekolah. Adapun prosedurnya: 1) memilih mitra , 1) membuat perencanaan, 3) melaksanakan tindakan dan observasi 4) melaksanakan diskusi dan refleksi, 5) merencanakan pelaksanaan tahap / siklus 2, dan seterusnya.

Model GMD sangat mungkin dilaksanakan dan optimal mencapai hasil peningkatan kualitas pembelajaran, karena sistemnya tidak terlalu rumit dan alamiah. Model GMD pun kaya manfaat, diantaranya: Mengoptimalkan pencapaian tujuan Program PPL; Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah dan LPTK; Meningkatkan kerjasama profesional di antara pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah dan LPTK; Tumbuhnya pembudayaan mutu di lingkungan pendidikan; serta terlaksananya pengembangan profesional berkelanjutan.

Optimalisasi model ini akan dicapai apabila pihak LPTK dapat memasukkan program ini sebagai bagian dari program PPL. Pihak sekolah pun demikian, ada baiknya mengambil kesempatan masa pelaksanaan PPL di sekolah tersebut untuk melaksanakan upaya peningkatan proses dan hasil pembelajaran dengan Model GMD, tentunya.

Continue reading

Mengembangkan Sikap Profesionalisme dengan Melaksanakan Inovasi Pembelajaran Sastra di LPTK

Oleh: Elyusra*

*Dra. Elyusra, M.Pd. pengampu mata kuliah Kesusastraan dan Perencanaan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu. pemilik akun blog http://adabundaguru.wordpress.com

 

ABSTRAK

Makalah ini membahas tentang mengembangkan sikap profesionalisme dengan melaksanakan inovasi pembelajaran. Mengembangkan sikap profesionalisme dan melaksanakan inovasi pembelajaran sangat terkait dengan aspek kognitif . Oleh sebab itu, pada makalah ini diungkapkan tentang konsepsi sikap profesionalisme dan inovasi pembelajaran. Sikap profesionalisme adalah komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus-menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya itu. Inovasi pembelajaran berkenaan dengan berbagai aspek pembelajaran yang dijalankan dengan prinsip: analisis, sifatnya konseptual, simpel dan terfokus, dari yang kecil, dan diarahkan pada kepeloporan.Seorang inovator diingatkan untuk tidak bersikap paling pintar, jangan berbuat terlalu banyak, dan jangan memiliki harapan yang terlalu muluk.Kondisi yang memungkinkan terlaksananya inovasi adalah: berkat hasil kerja, di atas kekuatan sendiri, serta berefek ekonomi dan masyarakat. Inovasi pembelajaran sastra di LPTK hendaknya dijalankan dengan mengacu pada dokumen-dokumen normatif, dokumen alternatif, dan realitas kontekstual suatu seting pembelajaran. Sebagai refleksi, beberapa inovasi pembelajaran yang telah dilaksanakan dalam pembelajaran sastra di FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu adalah: Meningkatkan fasilitasi terhadap mahasiswa yang bermasalah; Merancang pembelajaran dengan teori elaborasi; Melaksanakan penilaian autentik: menyeimbangkan penilaian proses dan hasil, mencapai standar yang tinggi, menggunakan teknik penilaian portofolio, melaporkan hasil belajar secara analitik; Menggunakan teknik mencatat peta konsep.

 

1. Pendahuluan

Di dalam Undang-Undang RI nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dinyatakan; Kedudukan dosen sebagai tenaga profesional pada jenjang perguruan tinggi bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertagwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Demikian mulianya amanah yang diemban dosen. Akan tetapi, berat pula tanggung jawab yang harus dijalankan. Dengan demikian, profesionalisme dosen saat ini perlu disikapi secara cermat dan handal.

Continue reading

Media Pembelajaran Peta Konsep: Suatu Wawasan Konseptual

Oleh: Dra. Elyusra, M.Pd.*

*Penulis adalah dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu, pemilik akun blog http://adabundaguru.wordpress.com

I. Pendahuluan

Dewasa ini usaha perbaikan pengajaran sedang gencar-gencarnya dilaksanakan pada berbagai aspeknya. Tiga isu sentralnya, yaitu: pengembangan dan pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan inovasi pembelajaran. Pada dasarnya, KBK dan KTSP hadir berkat semangat berinovasi. Inovasi pembelajaran mencakup keseluruhan aspek pembelajaran, mulai dari visi, misi, kurikulum, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan sebagainya. Pada berbagai tingkat satuan pendidikan persoalan KBK dan KTSP tinggal menjalani proses pematangan saja, karena setiap lembaga pendidikan telah menerima perubahan kurikulum tersebut. Setiap Lembaga pendidikan telah ber-KBK dan ber-KTSP. Dari pengamatan penulis, yang sedang berlangsung sekarang adalah gerakan berinovasi dalam melaksanakan pembelajaran.

Sebagaimana hakikat inovasi, kegiatan kreativitas itu berupa pemasukan atau pengenalan hal-hal baru; pembaharuan; atau penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya. Pembeharuan tersebut, dapat berupa gagasan, metode, atau alat ( KBBI, 2001:435 ). Inovasi pembelajaran hendaknya berlangsung secara terus-menerus, dengan meperhatikan sejumlah prinsip, yaitu: 1) atas dasar analisis, 2) bersifat konseptual, 3) bersifat simpel dan terfokus, 4) dimulai dengan yang kecil, dan 5) diarahkan pada kepemimpinan atau kepeloporan ( Drucker dalam Tilaar, 1999: 356 ).

Continue reading

Strategi E-CM-CL untuk Peningkatan Kualitas Proses dan Hasil Belajar pada Mata Kuliah Teori Sastra di LPTK

Oleh: Dra. Elyusra, M.Pd.*

*Pengampu mata kuliah Perencanaan Pembelajaran BSI dan Kesusastraan di FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu, pemilik akun blog http://adabundaguru.wordpress.com

 

I. Pendahuluan

Mata kuliah Teori Sastra merupakan mata kuliah yang ditujukan membina kompetensi mahasiswa dalam hal memahami teori kesusastraan yang mencakup hakikat sastra, unsur-unsur atau lapis normanya, jenis (genre) sastra, dan kriteria untuk membedakan jenis sastra.Mata kuliah ini berkategori tipe struktur konseptual. Konsep-konsep tersebut merupakan konsep abstrak.

Dalam mengasuh mata kuliah Teori Sastra peneliti menemukan bahwa beberapa prinsip pembelajaran yang diperlukan sebagai penunjang keberhasilan perkuliahan tidak berjalan secara optimal. Sebagian besar mahasiswa tidak memiliki handout atau buku-buku referensi. Selama proses perkuliahan berlangsung, mahasiswa hanya mencatat materi perkuliahan dari presentasi dosen. Di samping itu, aktivitas mahasiswa untuk bertanya dan mengajukan pendapat sangat rendah. Jika dosen mengajukan pertanyaan, tidak terlihat kemauan dan kemampuan mahasiswa untuk memberikan respon dengan cepat.

Kondisi lain yang sangat mengkhawatirkan pula, yaitu pemahaman konsep mahasiswa sangat rendah terhadap materi perkuliahan dan mahasiswa sering pula miskonsepsi. Apabila diajukan pertanyaan setelah mempelajari suatu konsep, mahasiswa menyatakan belum paham. Pertanyaan yang diajukan pada saat apersepsi, dijawab mahasiswa dengan membacakan buku catatannya. Dalam menjawab pertanyaan waktu ujian (ujian tengah semester dan ujian akhir semester), jawaban yang diberikan mahasiswa seringkali ngawur atau miskonsepsi. Misalnya, jawaban mahasiswa terhadap pertanyaan pengertian kesatuan dalam keragaman sebagai kaidah sastra adalah walaupun terdapat berbagai macam suku bangsa, agama, dan budaya di nusantara tetapi semuanya merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisah-pisahkan. Padahal pengertian konsep tersebut adalah suatu karya sastra dibangun oleh berbagai unsur namun masing-masing unsur tidaklah berdiri sendiri-sendiri. Bahkan makna suatu unsur sangat ditentukan eleh keberadaan unsur lain. Misalnya, novel dibangun oleh unsur tema, penokohan, alur, dan sebagainya. Tema bermakna dalam kaitannya dengan unsur lain. Banyak pula mahasiswa yang mempertukarkan definisi suatu konsep dengan definisi konsep yang lain, misalnya definisi sastra dengan definisi teori sastra.

Continue reading