Model Elaborasi dan Peta Konsep pada Perkuliahan Teori Sastra Suatu Inovasi Pembelajaran di LPTK

Oleh : Dra. Elyusra, M. Pd.*

*Dosen Pengampu Mata Kuliah Kesusastraan dan Pembelajaran BSI di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Pemilik akun blog http://adabundaguru.wordpress.com

 

1. Pendahuluan

Dunia pendidikan sekarang dituntut untuk senantiasa melakukan inovasi dalam pembelajaran, pada berbagai aspeknya, mulai dari visi, misi, tujuan, program, layanan, metode, teknologi, proses, sampai evaluasi. Bagi seorang dosen pemilihan model pembelajaran hendaknya dilakukan secara cermat, agar pilihan itu tepat atau relevan dengan berbagai aspek pembelajaran yang lain, efisien dan menarik. Lebih dari itu, banyak pakar yang menyatakan bahwa sebaik apa pun materi pelajaran yang dipersiapkan tanpa diiringi dengan model pembelajaran yang tepat pembelajaran tidak akan mendatangkan hasil yang maksimal. Kecermatan pilihan itu semakin penting jika kondisi yang dihadapi kurang kondusif, seperti halnya pembelajaran teori sastra bagi mahasiswa semester awal di LPTK.

Pengalaman belajar sastra yang telah dilalui oleh mahasiswa baru atau mahasiswa semester satu di LPTK selama menempuh pendidikan di SLTP dan SMA sudah banyak, namun pada kenyataannya mahasiswa kurang menguasai konsep –konsep sastra, seperti istilah-istilah teknis sastra. Sewaktu di SLTP dan SMA mahasiswa semester awal tadi telah memperoleh pengalaman belajar mengungkapkan aspek estetis sebuah puisi, seperti pola persajakan, menyatakan pendapat tentang tampilan puisi dan variasi bunyi konsonan dan bunyi vocal yang digunakan penyair . Akan tetapi, ketika duduk di LPTK mahasiswa tadi tidak kenal dengan istilah unsur mental dan unsur fisik puisi. tidak mengetahui bahwa penggunaan bunyi vocal dan konsonan tadi disebut dengan asonansi dan aliterasi dan tampilan puisi di atas kertas yang mempesona mereka itu disebut dengan istilah tifografi, bahkan dari pengalaman penulis ada mahasiswa yang menyamakan tifografi dengan biografi. Kejadiannya pun di waktu ujian tengah semester.

Perkuliahan Teori Sastra hendaknya dirancang dengan orientasi pembekalan kompetensi mahasiswa menguasai konsep-konsep sastra tersebut dan mengungkapkan hubungan suatu konsep dengan konsep yang lain. Horn (dalam Maryumis, 2003) mengemukakan pengertian, konsep merupakan rangkaian kata-kata/ kalimat dalam suatu bahan kajian yang secara rasional dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti : nama, definisi,contoh, dan lain-lain. Sedangkan suatu definisi, menurut formula yang dikemukakan Merrill (1983) hendaknya mengandung empat unsur, yakni menyebutkan nama konsep, kelas superordinat, ciri-ciri yang mendefinisikan, serta kata hubung antarciri yang mendefinisikan itu.

Berdasarkan PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 ayat 3 dan Pedoman sertifikasi guru 2005, pada kompetensi profesional guru pemula dinyatakan bahwa mahasiswa calon guru harus menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang mencakup substansi dan metodologi bidang ilmu serta materi kurikulum sekolah . Apabila perkuliahan dilaksanakan secara konvensional dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab serta mencatat dengan teknik yang konvensional pula, tentu perkuliahan tersebut tidak mencapai tujuan secara optimal, membutuhkan alokasi waktu yang sangat besar, dan akan berlangsung monoton yang akan membosankan, baik dosen maupun mahasiswa. Fenomena ini masih terlihat. Pada banyak perangkat rancangan perkuliahan tidak tercantum model pembelajaran yang akan digunakan, yang ada pemakaian metode ceramah dan tanya jawab. Pada pelaksanaan perkuliahan masih ada dosen yang melaksanakan pembelajaran dengan menceramahkan dan mendiktekan konsep-konsep tersebut. Oleh sebab itu, sudah saatnya pembelajaran teori sastra ini berinovasi. Pemilihan model Elaborasi dan teknik mencatat dengan teknik peta konsep dapat menjadi pilihan yang patut dipertimbangkan.

Perkuliahan dengan model elaborasi yang berlandaskan Teori elaborasi yang memiliki komponen urutan elaboratif, urutan prasyarat pembelajaran, rangkuman (summarizer), sintesis (syntherizer), analogi, pengaktif strategi kognitif (cognitive strategy activator) dan kontrol belajar memberikan kemungkinan yang sangat luas untuk mewujudkan kompetensi tersebut. Dengan model ini dapat dilakukan penstrukturan mata kuliah berdasarkan kompetensi yang akan dibina, demukian pula pengelaborasian topik secara optimal sesuai kebutuhan, melaksanakan proses pembelajaran yang berorientasi pada paradigma baru, dengan peristiwa-peristiwa pembelajaran seperti memberikan rangkuman, sintesa dan analogi, serta senantiasa mengaktifkan strategi kognitif dan memberikan kebebasan belajar kepada mahasiswa.

Pemakaian teknik mencatat peta konsep memungkinkan satu topik tersaji pada satu halaman kertas. Teknik ini telah teruji keampuhannya dalam hal meningkatkan pemahaman dan menghemat waktu belajar. Karena peta konsep merupakan suatu karya kreatif, ia bersifat individual dan menggunakan sarana-sarana seni, seperti pemakaian besar dan bentuk huruf yang bervariai serta warna yang beraneka.

Berdasarkan pemikiran di atas, makalah ini akan membahas tentang 1) Bagaimanakah deskripsi mata kuliah Teori Sastra ?, 2) Bagaimanakah Teori Elaborasi? , 3) Bagaimanakah teknik mencatat dengan peta konsep ? dan 4) Bagaimanakah aplikasi Model Elaborasi dan peta konsep pada mata kuliah Teori sastra?

2. Pembahasan

2.1 Deskripsi Mata Kuliah Teori Sastra

Dikemukakan oleh Pradopo (2002) bahwa :

“Teori sastra adalah bidang studi yang berhubungan dengan teori kesusastraan, seperti studi tentang apakah kesusastraan itu, bagaimana unsur-unsur atau lapis normanya; studi tentang jenis sastra (genre), yaitu apakah jenis sastra dan masalah umum yang berhubungan dengan jenis sastra, kemungkinan dan kriteria untuk membedakan jenis sastra, dan sebagainya”

Sejalan dengan pendapat di atas, Fananie (2000) menyatakan bahwa:

Teori sastra adalah teori yang mempelajari aspek-aspek dasar dalam karya sastra. Aspek-aspek tersebut meliputi aspek intrinsik dan ekstrinsik sastra. Teori dasar intrinsik sastra berhubungan erat dengan bahasa sebagai sistem, konvensi sastra, kompetensi sastra, konvensi bahasa, sedang konvensi ekstrinsik berkaitan dengan aspek-aspek yang melatarbelakangi penciptaan sastra. Aspek tersebut meliputi aliran, unsur-unsur budaya, filsafat, politik, agama, psikologi, dan sebagainya

Pembelajaran sastra pada tingkat pendidikan manapun hendaknya diorientasikan untuk membina apresiasi. Pada taksonomi tujuan pembelajaran, aspek apresiasi merupakan ranah afektif. Para ahli pendidikan mengungkapkan bahwa aspek kognitif dan aspek afektif ibarat dua sisi mata uang yang harus ada pada setiap program pembelajaran. Umumnya, mata kuliah Teori Sastra ditawarkan pada semester satu. Dengan demikian, pembinaan apresiasi yang memungkinkan adalah yang dapat menarik minat mahasiswa terhadap sastra. Pada klasifikasi yang dikemukakan Wardani (1981) tingkat ini adalah tingkat menggemari.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, topik-topik materi yang dapat digunakan untuk mengantarkan mahasiswa agar memiliki kompetensi di bidang teori sastra tersebut, mencakup: 1) Konsep-konsep dasar sastra dan studi sastra, 2) Gemar membaca sastra, 3) sistem sastra, 4) unsur-unsur pembangun sastra, 5) Hakikat puisi, 6) Hakikat fiksi, 7) Hakikat drama dan 8) Kritik sastra. Topik-topik inilah yang akan dipelajari sebagai program satu semester. Kedalaman dan keluasannya disesuaikan dengan tuntutan mata kuliah ini sebagai mata kuliah prasyarat dan sebagai sumber bahan ajar bagi calon guru. Dengan demikian, setiap topik dielaborasi sesuai dengan kebutuhan dan penstrukturan disesuaikan pula dengan kompetensi yang akan dibina. Hal ini sangat memungkinkan dilakukan dengan model elaborasi

2.2 Teori Elaborasi

Teori Elaborasi pengajaran dikemukakan Reigeluth dan Stein (1983) mengunakan tujuh komponen strategi, yaitu: 1) urutan elaboratif untuk struktur utama pengajaran , 2) urutan prasyarat pembelajaran ( di dalam masing-masing subjek pelajaran), 3) summarizer (rangkuman). 4) syintherizer, (sintesa) 5) analogi, 6) cognitive strategy activator (pengaktif strategi kognitif), 7) kontrol belajar .

Sebagaimana diungkapkan Degeng (1989) pengembang-pengembang teori pengajaran sesudah Gagne, seperti Rugeluth, Merrill, dan Bunderson memperkenalkan karakteristik lain dari struktur mata kuliah yang didasarkan pada hubungan-hubungan yang ada antarbagian isi mata kuliah. Secara umum, struktur mata kuliah dapat dideskripsikan atas struktur konseptual, struktur prosedural. struktur teoritik.

Struktur konseptual adalah suatu struktur yang menunjukkan hubungan lebih tinggi /lebih rendah di antara konsep-konsep. Struktur konsep memuat konsep-konsep mata kuliah untuk mencapai kompetensi orientasi konseptual. Tiga tipe penting dari struktur konseptual adalah taksonomi bagian, taksonomi jenis, matrik atau tabel. Berdasarkan uraian di atas, mata kuliah Teori Sastra tergolong mata kuliah bertipe konseptual taksonomi bagaian. Taksonomi bagian adalah struktur konseptual yang menunjukkan bahwa konsep-konsep merupakan bagian dari suatu konsep yang lebih umum.

Prasyarat pembelajaran didefinisikan sebagai struktur yang menunjukkan konsep-konsep yang harus dipelajari sebelum konsep lain bisa dipelajari. Oleh sebab itu, ia menampilkan hubungan prasyarat belajar untuk suatu konsep. Rangkuman merupakan tinjauan kembali (review) terhadap materi yang telah dipelajari untuk mempertahankan retensi. Fungsi rangkuman untuk memberikan pernyataan singkat mengenai materi yang telah dipelajari dan contoh-contoh acuan yang mudah diingat untuk setiap konsep. Rangkuman yang diberikan di akhir suatu perkuliahan dan hanya merangkum materi yang baru dipelajari disebut rangkuman internal (internal summarizer), sedangkan rangkuman semua materi beberapa kali perkuliahan disebut rangkuman eksternal (within set summarizer).

Pensintesis (synthesizer) adalah komponen teori elaborasi yang berfungsi untuk menunjukkan kaitan-kaitan di antara konsep-konsep . Pensintesis penting karena akan memberikan sejumlah pengetahuan tentang keterkaiatan antarkonsep, memudahkan pemahaman,meningkatkan kebermaknaan dengan menunjukkan konteks suatu konsep, memberikan pengaruh motivasional, serta meningkatkan retensi (Degeng, 1989).

Analogi adalah komponen penting dalam pembelajaran karena mempermudah pemahaman dengan cara membandingkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah dikenal mahasiswa ( Reigeluth dan Stein, 1983b). Pemakaiannya lebih efektif apabila disampaikan di awal pembelajaran ( Degeng,1989).

Pengaktif strategi kognitif adalah keterampilan-keterampilan belajar yang diperlukan mahasiswa untuk mengatur proses-proses internalnya ketika ia belajar, mengingat, dan berpikir yang terdiri atas dua cara: pengadaan melalui perancangan pengajaran dan menyuruh mahasiswa menggunakannya. Penggunaan gambar, diagram., mnemonik, analogi, dan parafrase, serta pertanyaan-pertanyaan penuntun dapat memenuhi maksud ini.

Menurut Merrill ( dalam Degeng,1989) konsepsi kontrol belajar mengacu pada kebebasan mahasiswa dalam melakukan pilihan dan pengurutan terhadap isi mata kuliah yang dipelajari (content control), komponen strategi pengajaran yang digunakan (display control),dan trategi kognitif yang ingin digunakannya (conscious cognition control). Berbagai komponen teori elaborasi di atas, seperti: rangkuman, pensitesis, analogi, memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melakukan kontrol belajar.

Pembelajaran yang dirancang berdasarkan Teori Elaborasi dijalankan dengan tujuh prinsip, yaitu: 1) Menyajikan kerangka mata kuliah pada fase atau pertemuan pertama; 2) Bagian-bagian yang tercakup kedalam kerangka isi hendaknya dielaborasi secara bertahap; 3) Bagian yang terpenting hendaknya dielaborasi pertama kali; 4) Kedalaman dan keluasan elaborasi hendaknya dilakukan secara optimal; 5) Pensintesis hendaknya diberikan setelah setiap kali melakukan elaborasi, 6) Jenis pensintesis hendaknya disesuaikan dengan tipe isi mata kuliah; 7) Rangkuman hendaknya diberikan sebelum setiap kali menyajikan pensintesis ( Degeng, 1989). Merril (1983) mengemukakan empat bentuk presentasi, yakni presentasi primer, presentasi sekunder, presentasi tampilan proses, dan presentasi tampilan prosedur. Adapun bentuk-bentuk presentasi primer ditinjau berdasarkan spesifitas (kekhususan) materi dan dimensi harapan responsif mahasiswa terdiri atas: presentasi jeneralitas, contoh, ekspositif dan inkuisitif Dikatakan lebih lanjut, bahwa keempat jenis presentasi primer tersebut dapat dielaborasi dengan sejumlah presentasi sekunder. Adapun jenis-jenis presentasi sekunder tersebut adalah: Elaborasi prasyarat, informasi tambahan mengenai konsep-konsep komponen yang membentuk jeneralitas; Elaborasi kontekstual, informasi tambahan berupa latar belakang kontekstual atau historis. Elaborasi mnemonik, alat bantu memori untuk membantu mahasiswa mengingat. Menurut Meier (2002) diantaranya akronim, akrostik sanjak, gerakan fisik; Elaborasi matemagenik, alat penarik perhatian, seperti panah, warna, huruf tebal, grafik; Elaborasi representasi, atau presentasi alternatif, yakni penggambaran dengan suatu bentuk/cara lain; dan Umpan balik atau pengetahuan mengenai hasil yang dicapai.

2.3 Peta Konsep

Sebagaimana diungkapkan DePorter, dkk. (2000) bahwa metode mencatat yang baik harus membantu kita mengingat perkataan dan bacaan, meningkatkan pemahaman terhadap materi, membantu mengorganisasi materi, dan mem-berikan wawasan baru. Peta konsep (Concept Maps) memungkinkan terjadinya semua itu. Peta konsep dikembangkan Tony Buzan pada tahun 1970-an merupakan teknik memetakan konsep atau teknik mencatat informasi yang disesuaikan dengan cara otak memproses informasi yang memfungsikan otak kanan dan otak kiri secara sinergis (bersamaan dan saling melengkapi) sehingga informasi lebih banyak dan lebih mudah diingat ( DePorter, dkk. 2000 dan DePorter dan Hernacki, 2002). Svantesson (2004) mengatakan teknik ini dapat digunakan untuk membuat ringkasan buku dan ringkasan kuliah serta ketika membutuhkan struktur.

Mata kuliah Teori Satra termasuk tipe struktur konseptual anatomi bagian, Keseluruhan materi mata kuliah Teori Sastra merupakan struktur konsep-konsep yang jumlahnya cukup banyak. Selain jumlah yang banyak, boleh dikatakan semua konsep itu merupakan konsep abstrak. Kondisi ini menuntut adanya teknik mencatat yang dapat menjalankan fungsi sebagai peringkas materi kuliah, memudahkan proses mencatat dan menghafal informasi dan menimbulkan kesenangan dalam belajar.

Peta konsep berbentuk suatu gambar keseluruhan dari suatu topik. Gagasan utama diletakkan di tengah-tengah halaman dan sering dilengkapi dengan lingkaran, persegi, atau bentuk lain.Dari gagasan utama, ditambahkan cabang-cabang untuk setiap point atau gagasan utama. Jumlahnya bervariasi tergantung dari jumlah gagasan atau segmen. Tiap-tiap cabang dikembangkan untuk detail dengan menuliskan kata kunci atau frase dan dapat pula berupa singkatan.Sedangkan simbol-simbol dan ilustrasi-ilustrasi dapat ditambahkan untuk menambatkan ingatan yang lebih baik. Ditambahkan pula bahwa peta konsep terbaik adalah peta konsep yang warna-warni dan menggunakan banyak gambar dan simbol; biasanya tampak seperti karya seni ( DePorter, dkk. 2000, DePorter dan Hernacki, 2002, Svantersson, 2004). Berikut ini adalah contoh peta konsep dengan topik Peta Pikiran.

clip_image002

Dalam pembelajaran Teori Sastra, pencatatan dengan peta konsep memungkinkan komponen Teori Elaborasi terlaksana secara optimal. Untuk melaksanakan elaborasi-elaborasi, dosen menambahkan cabang-cabang pada konsep yang hendak dielaborasi. Cara mencatat ini digunakan dosen pada saat presentasi untuk membuat catatan di white board sekaligus sebagai teknik pengaktif strategi kognitif mahasiswa, dan mahasiswa menggunakannya pula sebagai sistematika pelaporan tugas meringkas materi/ bahan ajar pada tugas terstruktur, serta sebagai teknik mencatat materi presentasi di dalam kelas. Metode mencatat peta konsep ini sejalan dengan Teori Elaborasi. Keduanya dijalankan secara terintegrasi dan di antaranya ada jalinan saling mendukung.

2.4 Perkuliahan Teori Sastra dengan Model Elaborasi dan Peta Konsep

Berdasarkan kajian di atas, perkuliahan Teori Sastra dengan Model Elaborasi dan peta konsep dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1) Penyajian kerangka mata kuliah. Kerangka mata kuliah disampaikan pada perkuliahan intensif pertama saat melakukan kontrak perkuliahan. Penyampaiannya dalam bentuk peta konsep. Seperti peta konsep berikut:

 

clip_image008[4]

Pada pertemuan ini, dilakukan pembekalan strategi kognitif mahasiswa berupa keterampilan pembuatan catatan dengan peta konsep. Konsep peta konsep dielaborasi sedemikian rupa secara persuasif dengan elaborasi kontekstual dan elaborasi analogi. Materi untuk pertemuan kedua diberikan secara lengkap kepada mahasiswa. Mahasiswa ditugaskan membaca dan mempelajarinya secara mandiri, kemudian meringkasnya dalam bentuk peta konsep secara berkelompok. Mahasiswa diberi tahu bahwa walaupun peta konsep dilaporkan secara berkelompok tetapi setiap mahasiswa harus memiliki peta konsep setiap topik materi kuliah. Pada tahap awal, tugas meringkas materi kuliah dalam bentuk peta konsep diberikan secara terbimbing, yakni topik dan cabang-cabang peta konsep sepenuhnya diberikan dosen, mahasiswa ditugaskan melengkapi ranting-rantingnya saja dan dilakukan secara berkelompok. Kerangka peta konsep sebagai bantuan yang diberikan berbentuk seperti ini:

clip_image013

Secara bertahap bantuan ini dikurangi. Pembuatan ringkasan materi secara mandiri dilakukan mahasiswa apabila keterampilan ini telah dikuasai. Agar hasil pembelajaran lebih optimal, sebaiknya peta konsep diiringi dengan pembuatan daftar istilah beserta pengertiannya.

2) Elaborasi tahap pertama. Elaborasi tahap pertama adalah elaborasi bagian satu atau cabang pertama dari topik Teori Sastra, yakni konsep-konsep dasar sastra dan studi sastra. Berdasarkan tugas yang telah disampaikan kepada mahasiswa pada pertemuan pertama, pada pertemuan kedua setiap mahasiswa telah memiliki ringkasan dalam bentuk peta konsep. Pengonstruksian konsep-konsep dasar sastra dan studi sastra dilaksanakan secara kolaboratif antara mahasiswa dengan dosen serta kolaborasi antarmahasiswa. Penulisan peta konsep di white board pada awal semester dilakukan dosen. Bila keterampilan mahasiswa sudah memungkinkan, mahasiswalah yang menuliskannya. Elaborasi tiap-tiap cabang dari topik “konsep-konsep dasar Sastra dan Studi Sastra” dilakukan secara optimal dengan ragam elaborasi yang relevan. Elaborasi diakhiri dengan rangkuman dan pensintesis internal. Apabila semua cabang pada topik yang dibahas selesai dielaborasi, dosen memberikan materi untuk perkuliahan berikutnya dengan tugas yang sama.

3) Pertemuan ketiga, setelah elaborasi tahap pertama, dilakukan peninjauan terhadap peta konsep materi pembelajaran elaborasi tahap pertama Setelah ini, dilakukan elaborasi cabang berikutnya (elaborasi tahap kedua) sampai elaborasi dirasa mencukupi. Perkuliahan ini diakhiri dengan rangkuman dan pensintesis eksternal.

4) Pertemuan keempat dimulai dengan peninjauan semua materi yang telah dipelajari sambil memberikan Feed back. Pembelajaran dilanjutkan dengan elaborasi sampai pada tingkat yang mencukupi sesuai dengan kompetensi yang akan dibina. Tetap menggunakan peta konsep, baik oleh dosen maupun mahasiswa. Sepanjang pembelajaran dosen senantiasa mengaktifkan strategi kognitif mahasiswa, dengan peninjauan peta konsep yang dibuat mahasiswa serta pembekalan strategi kognitif lain yang dibutuhkan mahasiswa.

5) Perkuliahan seperti tahap keempat di atas berlangsung sampai pertemuan semingg sebelum Ujian Tengah Semester (UTS) dilaksanakan.

6) Seminggu sebelum UTS, mahasiswa menciptakan peta konsep yang mencakup seluruh materi yang telah dipelajari. Mahasiswa membuatnya secara berulang-ulang sampai hafal. tidak melihat lagi peta konsep yang asli.

4. Penutup

Perkuliahan Teori Sastra di LPTK memang membutuhkan model pembelajaran tersendiri. Para dosen yang masih bertahan dengan model yang lama ( konvensional) yang tidak melakukan penstrukturan mata kuliah, hanya terpaku pada metode ceramah, dan masih menggunakan teknik memcatat konvensional perlu disegarkan dengan model-model pembelajaran yang inovatif, kreatif dan menarik melalui berbagai forum ilmiah, seperti seminar ini.

Pemilihan model elaboratif dan peta konsep untuk perkuliahan Teori Sastra perlu dipertimbangkan karena pada aplikasinya dapat terimplikasi berbagai aspek paradigma baru pendidikan. Dengan model ini, beberapa prinsip pembelajaran yang diperlukan sebagai penunjang keberhasilan perkuliahan dapat berjalan secara optimal, diantaranya 1) Peran dosen sebagai fasilitator terlaksana secara optimal, seperti melalui penyediaan bahan ajar secara lengkap, bantuan pembuatan laporan tugas dengan kerangka peta konsep; 2) Mahasiswa mengikuti perkuliahan dengan kemampuan awal yang memadai, karena telah membaca bahan ajar yang diberikan seminggu sebelum perkuliahn dilangsungkan: 3) Pengonstruksian pengetahuan ilakukan oleh mahasiswa, 4) mahasiswa membuat catatan dengan terlebih dahulu memahami bahan yang diringkas; 5) pembelajaran lebih terpusat pada mahasiswa ( student center learning ), karena mahasiswa membaca dan mempelajari sendiri materi, mengerjakan tugas, dan berperan aktif dalam pembelajaran; 6) Penstrukturan materi kuliah yang tidak lagi mengikuti urutan pada buku teks, akan lebih menggiring pembelajaran pada pencapaian kompetensi yang akan dibina secara optimal.

Secara teoritis dan banyak data emperis telah membuktikan bahwa model elaborasi dan peta konsep dapat meningkatkan prestasi belajar, efisien dalam pemakaian waktu dan menarik bagi pembelajar atau mahasiswa. Kendatipun demikian, model ini tetap perlu dicobakan, misalnya melalui penelitian tindakan kelas. Tindakan ini akan dapat mengukuhkan model ini sebagai model yang sesuai untuk pembelajaran teori sastra, bahkan untuk mata kuliah lain yang bertipe sama selain dapat melakukan tindakan penyempurnaan berdasarkan temuan-temuan di lapangan

Pada akhir makalah ini, penulis mengungkapkan harapan agar pembahasan ini ada manfaatnya. Selain itu, hendaknya dapat pula menyulut semangat berdiskusi dan adu pendapat. Semoga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran teori sastra di LPTK pada masa yang akan datang.

Daftar Pustaka

Degeng, I Nyoman Sodana.(1989). Ilmu Pengajaran Taksonomi Variabel. Jakarta : Depdikbud

DePorter, Dobbi, dkk. (1999). Quantum Teaching: Mempraktekan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Terjemahan Ary Nilandari. (2000). Bandung: Mizan Media Utama

DePorter & Hernacki.(1992) Quantum Learning. Terjemahan Alwiyah Abdurrahman. 2002 Bandung: Kaifa

Fananie, Zainuddin. (200). Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah Universitas Press.

Maryunis, Aleks, (2003), Penggunaan Peta Informasi untuk Meningkatkan Proses dan Hasil Belajar Mata Kuliah Strategi Belajar Mengajar Matematika, Jurnal Pembelajaran, volume 26, nomor 2, Juni 2003, halaman 77-91

_______. (2003). Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa SLTP Menggunakan Strategi Pemetaan Konsep, Forum Pendidikan, volume 28, nomor 3, September 2003, hal 235-248.

Meier. (2002). The Acceletated Learning Hand Book: Panduan Kreatif dan Efektif Merancang Program Pendidikan dan Pelatihan. Terjemahan Rohmaini Astuti. 2002. Bandung: Kaifa.

Merrill, M.D. (1983). “Component Display Theory” dalam C.M. Reigeluth (Ed). Instructional – Design Theories and Models: An Overview of Their Current Status. Hillsdale, N.J: Lawrence Erlbaum Associates..

Pradopo.Rachmat Djoko, (2002). Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta : Gama Media

Reigeluth, C.M. (1983). “Instructional Design: What is it And hy is it?”

dalam C.M. Reigeluth (Ed.). Instructional Design Theories and Models: An Overview of Their Current Status. Hillsdale, N.J: Lowrence Erlbaum Associates.

Reigeluth, C.M. dan Stein, F.S. (1983). “The Elaboration Theory of

Instructional” Dalam C.M. Reigeluth (Ed.). Instuctional – Design Theories and Models: An verview of Their Current Status. Hillsdale, N.J: Lowrence Erlbaum Associate

Svantesson, Ingemar. (1989) Learning Maps and Memory Skills. Terjemahan Bambang Prajoko. (2004). Jakarta : Gramedia.

Wardani, I.G.A.K. (1981).” Pengajaran Sastra”. Jakarta: Departemen P dan K.

Posted on March 23, 2011, in Belajar, Belajar Memutar, Circuit Learning, Concept Map, Elaborasi, FKIP, Hasil Belajar, Inovasi Pembelajaran, Konsep, KTSP, Kurikulum, LPTK, Pembelajaran Sastra, Pendidikan, Peningkatan Hasil Belajar, Peningkatan Kualitas, Peta Konsep, Proses, Sastra, Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: